Unggulan

Apa itu Membaca Nyaring (Read Aloud)?

 

Video kali ini saya bersama Kak Dwi Supriyadi membahas tentang:

  1. Apa itu Read Aloud?
  2. Apakah sama antara Read Aloud dan mendongeng (story telling)?
  3. Apakah tujuan Read Aloud? 
  4. Apakah manfaat Read Aloud?
  5. Apakah modal utama Read Aloud?
  6. Kapan kita mula Read Aloud?
  7. Solusi orang tua yang sibuk?
  8. Apa buku yang dibacakan harus sesuai usia anak, atau bebas saja?
  9. Apa tahap Read Aloud (membaca nyaring)?
  10. Apa Pantangan dalam Read Aloud (membaca nyaring)?

Read Aloud itu apa?

Dalam bahasa Indonesia dikenal dengan membaca nyaring atau membaca lantang. Read Aloud merupakan salah satu metode membacakan buku untuk anak dengan bersuara nyaring/lantang yang difokuskan pada tekanan kata, kalimat, intonasi, jeda, dan tanda baca. Metode ini dipopulerkan oleh Jim Trelese dalam bukunya The Read Aloud Handbook. Di Indonesia kita mengenal Bu Roosie Setiawan, Nenek 4 cucu yang juga lulusan Hukum Unpar. Beliau pendiri komunitas Reading Bugs sejak tahun 2007. Sebuah komunitas yang mengkampanyekan agar orang tua punya kesadaran untuk membacakan cerita pada  anak anak. Juga menggerakkan Satgas Literasi Sekolah.

 

Bu Roosie juga yang berjasa menerjemahkan buku kondang yang sudah beken sejak tahun 1982 berjudul The Read Aloud Handbook-nya Jim Trelease (Noura books, Juli 2017). Disambung dengan menuliskan buku beliau sendiri berjudul Membacakan Nyaring (September 2017).

 

“360 jam membacakan nyaring, akan membuat anak bisa membaca buku dengan sendirinya tanpa diajarkan,” kata Bu Roosie. Mau membuktikan sendiri?”

Apakah sama antara Read Aloud dan mendongeng (story telling)?

Setahu saya mendongeng dan story telling membutuhkan kemampuan menghafal cerita. Jadi untuk menjadi seorang pendongeng atau storyteller, seseorang tidak belajar intonasi, karakter suara, ekspresi. Ia juga harus menghafal isi cerita. Sehingga ketika saatnya mendongeng, ia tidak perlu membaca teks cerita dan tinggal mendongeng saja. Selain itu pendongeng atau storyteller memerlukan alat peraga tambahan. Misalnya ketika bercerita aneka binatang, seseorang akan menyiapkan boneka gajah, jerapah, dan lainnya.

Sedangkan Read Aloud lebih sederhana. Kita tidak perlu menghafal cerita. Kita tinggal ambil buku, lalu ajak anak, dan kita membacakan saja sesuai teks buku. Tidak perlu menghafal. Inilah yang membuat Read Aloud bisa dilakukan oleh siapa saja, selama ia bisa membaca.


 

Apakah tujuan Read Aloud?

Kita sebagai orang tua atua orang dewasa di sekitar anak-anak harus mengerti sejak dini. Bahwa tujuan Read Aloud bukan mengajari anak membaca. Sekali lagi Read Aloud bukan mengajari anak membaca. Tapi kita ingin memberikan pengalaman yang menyenangkan bagi anak berinteraksi dengan buku. Seperti kata Jim Trelease dalam buku The Read-Aloud Handbook bahwa “Kita harus memastikan bahwa pengalaman awal anak dalam membaca  itu tidak menyakitkan, sehingga mereka akan senantiasa gembira mengingat pengalaman tersebut, kini, dan selamanya”

Saat anak sudah suka, ia akan mengalam percepatan dalam proses pembelajaran apapun. Jadi jika kita ingin seorang anak pintar Matematika atua sains misalnya, jangan ajari dia tentang Matematika sains secara langsung. Tapi buat dia menyukai segala hal yang menyenangkan terkait itu. Sehingga akan muncul dalam bawah sadarnya bahwa Matematika atau sains itu menyenangkan.

Hal itulah yang harus  kita lakukan pada buku. Buat anak-anak menyukai dan mencintai buku. Percayalah kemampuan berbahasa dan membacanya akan mahir dengan sendirinya.

Tujuan yang kedua, membangun kedekatan anak dengan orang tua. Dan menurut saya ini yang penting. Orang tua dan anak perlu membangun hubungan emosional yang kuat dengan quality time bersama. Dan salah satu caranya dengan Read Aloud,. Misalnya saat mau tidur, temani anak di tempat tidur lalu bacakan satu cerita dari buku yang ia sukai. Semoga dengan ini hubungan orang tua dan anak akan semakin akrab.

Apakah manfaat Read Aloud?

#1 Menstimulasi otak anak

Anak yang rutin dibacakan buku, neuron di otaknya akan terangsang saling terhubung. Ini penting untuk perkembangan bahasa dan imajinasinya.

#2 Melatih pendengaran

Anak akan belajar mendengarkan cerita untuk mengenal yang namanya intonasi, volume suara, dan jeda.

#3 Merangsang imajinasi anak

Saat Read aloud kita menunjukkan ilustrasi buku diperkuat dengan intonasi dan nada suara yang berbeda. Imajinasi anak akan mengikuti cara kita bercerita. Bahkan bisa lebih bebas lagi.

#4 Mendekatkan orang tua dengan anak

Menguatkan bonding antara anak dan orang tua. Dengan membacakan cerita, anak akan merasa dekat dengan orang tuanya. Hal ini akan memberikan perasaan nyaman kepada anak. Jadi di kepala anak akan mengasosiasikan kegiatan membaca dengan rasa nyaman. Ini lah modal dasar untuk membuat anak suka membaca.

 #5 Melatih rentang perhatian dan mengingat

Pada saat orang tua membacakan cerita, anak akan berlatih untuk mendengarkan dan menyimak dengan lebih baik. Ini sangat baik untuk melatih kemampuan konsentrasi anak

#6 Mengenalkan anak pada konsep buku dan belajar

Anak jadi tahu kalau buku adalah sumber ilmu yang menyenangkan untuk memenuhi rasa ingin tahu. Bagaimana anak belajar mengenai bahwa buku itu dibaca dari kiri ke kanan, dari atas ke bawah, dan bisa di bolak-balik halamannya.

Jika kesulitan mendapatkan buku, kita bisa jadi anggota perpustakaan, meminjam di tetangga atau perpustakaan sekolah anak, atau saling barter dengan teman lain. Banyak jalan menuju Roma Perpustakaan kalau memang niat.

#7 Menambah kosakata baru dan mengerti arti kata

Membaca membantu anak mengenal kosa kata baru yang mungkin tidak diucapkan dalam bahasa sehari-hari dan hanya ada dalam bahasa tulisan.

Misalnya kata mendengus, menerkam, mengendus mungkin bukan kata-kata yang biasa kita ucapkan dalam percakapan sehari-hari. Nah, anak-anak akan belajar dari sejumlah buku yang dibacakan.

 

Seperti yang bisa kita lihat dalam gambar, filosofi dari Mangkok Read Aloud ini. Mangkok read aloud menggambarkan semakin banyak anak terpapar dengan kata-kata yang didapatkan dari buku yang dibacakan. Nantinya si anak akan mengeluarkan kata-kata tersebut menjadi celotehannya. Sampai akhirnya anak bisa lancar berbicara, baca sendiri lalu bisa (memiliki keinginan) menulis sendiri.

#8 Mengenal arti ilustrasi dan gambar

Dengan memperlihatkan dan menceritakan mengenai gambar pada sebuah buku, anak akan belajar mengenai konsep gambar untuk menjelaskan sebuah kejadian.

#9 Menjadi teladan membaca untuk anak

Anak akan melihat bagaimana orang tuanya membacakannya cerita dan menjadikan mereka lebih alami untuk mencontoh. Jadi jangan berharap banyak anak bisa suka buku, kalau kita jarang membacakan cerita atau jarang baca buku di rumah..

 Apakah Modal utama Read Aloud

Hanya dua, tersedianya buku (Cetak/digital) dan orang yang bisa membaca.

"Tidak banyak anak-anak yang belajar mencintai buku dari dirinya sendiri. Harus ada orang yang memancing mereka masuk ke dalam dunia bahasa tertulis yang indah: seseorang harus menunjukkan jalan kepada mereka"  (Orville Prescott, A Father Read  to His Children)

Kapan kita mula Read Aloud?

“Sedini mungkin,” kata Bu Roosie. Bahkan sejak dalam kandungan. Saat usia si janin sudah mulai mendengar bunyi dan suara (4 bulan). Masih hapal kan dengan konsep 1000 hari pertama seorang anak? Yaitu 40 minggu dalam kandungan dan 24 bulan setelah ia lahir ke dunia.

Tahapan belajar membaca itu:

Pada masa ini anak melalui tahap mendengar (0-2 bulan), tahap mengamati (2-4 bulan), tahap bergumam (4-8 bulan), tahap berceloteh (8-12 bulan), tahap membuat kata (12-18 bulan), tahap mengucapkan kalimat (18-24 bulan).

Tapi saya sibuk?

“Cukup dengan 10 menit sehari saja,” jawab Bu Roosie.

Saran Bu Rossie, tujuan membacakan cerita itu BUKAN untuk menyelesaikan 1 buku. Tapi menikmati prosesnya. Itu sebabnya 10 menit sehari saja sudah cukup.

Dalam proses ini anak akan belajar proses bertanya. “Kita ini di sekolah kurang diajarkan untuk bertanya. Kita hanya diajarkan untuk menjawab pertanyaan. Padahal menjawab pertanyaan, apalagi yang jelas-jelas sudah ada di buku, itu sangat lah mudah,” terang Bu Roosie.

Jadi jangan mematahkan semangat anak dengan mengatakan, “Cerewet banget sih Nak, nanya-nanya melulu.”

Apa Buku yang dibacakan harus sesuai usia anak, atau bebas saja?

Dalam buku Membaca Nyaring, bisa dibaca mengenai bagaimana kegiatan yang tepat dalam setiap tahapan, buku yang sesuai, dan tantangan yang mungkin pembaca lalui. Highly recommeded book untuk yang punya batita.

Membaca dini, Membaca awal, Membaca lancar, Membaca lanjut, Membaca mahir, Membaca kritis

Secara umum ada 5 hal yang harus diperhatikan

 

#1 Picture

Yak, sudah tidak bisa disangkal, bahwa buku yang digunakan untuk reading aloud anak usia dini, gambarnya harus menarik dan mengundang untuk dibaca, buku yang gambarnya ‘bercerita’ bukan sekedar tempelan atau pemanis.

#2 Rhyme

Buku yang berima terdengar lebih enak bila dibaca dengan lantang. Untuk audience anak-anak kata-kata berima ini bisa terdengar lucu dan karenanya : menarik! Coba saja baca kalimat ini keras-keras :

Ada seorang bapak,

Ia berkepala botak,

Senangnya batuk-batuk

hingga kepalanya manggut-manggut

Seperti burung mematuk-matuk

#3 Many Repetition

Seperti halnya rima, buku yang mengandung pengulangan kata (repetisi) akan lebih menarik bagi pembaca cilik. Contohnya seperti buku “Brown Bear Brown Bear What Do You See” karangan Eric Carle. Cuplikan dari buku itu seperti di bawah ini :

Brown Bear, Brown Bear what do you see?

I see a red bird looking at me

Red Bird, Red Bird, what do you see?

I see a yellow duck, looking at me, dst, dst

Enak kan mendengar rentetan kata seperti di atas. Kalimat di atas bukan hanya berima, mengandung repetisi, tetapi juga engaging, karena mendorong anak-anak untuk ramai-ramai melihat gambar apa yang pop-out di halaman selanjutnya dan sama-sama lantang menjawab : I see bla bla….. Buku ini juga direkomendasikan karena mengajarkan anak usia dini berfikir kognitif.

#4 Inspiring

Anak-anak perlu juga membaca buku-buku dengan tema beragam. Buku yang juga memperkenalkan budaya, peradaban, komunitas yang berbeda dengan yang biasa mereka kenal namun tetap relevan dengan kehidupan mereka sehari-hari (hadeeh, ribet yak, tapi ya memilih buku bagus memang sulit). Dengan membaca buku dengan beragam tema, anak-anak dapat belajar memahami kehidupan nyata. Dan tentu saja buku yang dipilih hendaknya memiliki penokohan dan alur cerita yang menarik.

#5 Engaging

Salah satu tujuan kegiatan reading aloud adalah untuk menimbulkan interaksi dengan anak-anak, maka dari itu pilihlah buku yang mengundang pertanyaan dari anak-anak, dan dapat menimbulkan topik percakapan. Oiya, in all cases, buku-buku yang dipilih haruslah sesuai dengan umur audience

 Apa Tahap Read Aloud (Membaca Nyaring)?



Pantangan  dalam Read Aloud (Membaca Nyaring)?

 (1) jangan bacakan cerita yang Anda sendiri tidak suka;

(2) jangan terus bacakan satu buku setelah Anda tahu buku itu adalah pilihan yang buruk;

(3) jangan mengaitkan bacaan dengan tugas;

(4) jangan membuat pendengar Anda kewalahan;

(5) jangan pilih satu buku yang sudah pernah didengar atau dilihat banyak anak di televisi;

(6) jangan memilih novel atau buku yang penuh dialog;

(7) jangan tertipu dengan penghargaan;

(8) jangan menjadi terlalu nyaman ketika membacakan cerita;

(9) jangan takut menghadapi banyak pertanyaan;

(10) jangan paksakan interpretasi suatu cerita pada pendengar;

(11) jangan samakan kuantitas dengan kualitas;

(12) jangan gunakan buku sebagai ancaman; dan

(13) jangan coba-coba berkompetisi dengan buku.

 #membacanyaring
#readaloud
#readaloudindonesia
#storytelling
#storytellingindonesia
#sangpengisah

 

 

 

Komentar